Mengenal Pusaka Rencong Aceh


https://tokopedia.by/agila88/content/84733921Rencong atau reuncong merupakan sebuah senjata tradisional yang berasal dari Aceh. Jauh sebelum ramai diperdagangkan oleh mereka yang jual rencong Aceh saat ini, senjata yang satu ini memiliki peran tersendiri di sejarah Indonesia, terutama masyarakat Aceh pada zaman penjajahan kolonial Belanda. Salah satunya adalah menjadi senjata pasukan Aceh pada periode Perang Aceh di tahun 1873 sampai 1904.

Tercatat di dalam arsip pemerintah kolonial Belanda bahwa banyak tentara mereka yang dibunuh menggunakan rencong ini. Karena itu, meskipun saat ini rencong dianggap sebagai bagian dari pakaian tradisional masyarakat Aceh, nyatanya rencong dapat diklasifikasikan sebagai senjata untuk bertarung (fighting weapon). Ukuran rencong yang relatif kecil membuat senjata ini dapat dengan mudah diselipkan ke dalam sarung pada zaman dahulu. Hal ini membuat rencong pada zaman tersebut sangat ideal untuk pertahanan diri sehari-hari. Dan karena alasan ini pula, rencong menjadi senjata yang sangat populer di kalangan wanita.

Rencong Aceh di Zaman Penjajahan Belanda

Desain dari rencong Aceh sendiri terpengaruh oleh keris, yang merupakan senjata tradisional masyarakat Jawa. Meski demikian, keduanya jelas memiliki bentuk yang sangat berbeda, sehingga tidak bisa dibandingkan begitu saja – hal yang sama juga berlaku untuk senjata tradisional Indonesia dari berbagai wilayah lainnya. Bentuk unik dari rencong Aceh tidak terlihat lurus maupun melengkung (luk) seperti halnya keris. Walaupun rencong tua biasanya memiliki pola pamor, sebagian besar rencong yang dibuat pada akhir abat ke-19 biasanya dibuat tanpa menambahkan motif tersebut.

Pasalnya, pada masa tersebut terjadi peralihan fungsi rencong, yang awalnya digunakan sebagai belati ritual menjadi senjata untuk pertarungan jarak dekat pada periode Perang Aceh. Dan karena alasan inilah mengapa kualitas dari bahan baku atau material jadi lebih penting dibandingkan ukiran atau ornamen pada rencong. Dan sejak saat itu, mulai dari awal abad ke-20, pisau pada rencong yang berkualitas selalu dibuat dari baja atau kuningan berkualitas tinggi.

Pada periode setelah tahun 1900, pemerintah kolonial Belanda menerapkan sebuah aturan di mana masyarakat Indonesia dilarang untuk membawa pedang, belati, pisau, maupun senjata tradisional lainnya. Tentunya alasan di balik aturan tersebut adalah sebagai upaya mereka meredam perlawanan bangsa Indonesia, terutama para pemberontak. Sementara itu, masyarakat Aceh dengan cerdik mengakali larangan tersebut hanya dengan mengubah bentuk dari gagang rencong.

Sebelumnya, desain gagang rencong dibuat dengan bentuk yang menyudut dengan kemiringan 90 derajat – desain ini disebut sebagai cugek. Setelah pelarangan tersebut, desain beralih menjadi gagang pudol, di mana sudut 90 derajat tersebut dipotong agar orang-orang bisa dengan lebih mudah menyembunyikan rencong di dalam sarung mereka.

Dahulunya, rencong bukan hanya menjadi belati untuk ritual, tapi juga menjadi simbol kebesaran kelas bangsawan. Akan tetapi, setelah kehadiran pemerintah kolonial Belanda yang menjajah Indonesia, termasuk Aceh, serta perlawanan masyarakat untuk membebaskan diri dari cengkeraman penjajahan, rencong perlahan menjelma menjadi lambang keberanian rakyat dan pejuang Aceh di era perjuangan tersebut. Bahkan, terlihat bahwa nyaris setiap pejuang Aceh digambarkan menggunakan rencong sebagai senjatanya.

Sedangkan di era modern saat ini, rencong lebih difungsikan sebagai bagian dari pakaian tradisional masyarakat Aceh. Di samping itu, rencong juga diperjual-belikan sebagai suvenir atau cinderamata yang bisa Anda temukan nyaris di semua toko kerajinan khas Aceh. Anda pun bisa menemukan toko yang jual rencong Aceh.

Bentuk Rencong

Berdasarkan sejarah, ada dua tingkatan rencong. Tingkatan pertama adalah rencong yang digunakan sultan atau raja. Rencong yang satu ini umumnya terbuat dari gading pada bagian sarungnya dan emas murni untuk belati atau pisaunya. Sedangkan tingkatan kedua adalah rencong yang bagian sarungnya terbuat dari kayu atau tanduk kerbau, serta belati yang terbuat dari besi putih atau kuningan.

Bentuk rencong sendiri mengacu pada kalimat bismillah dalam aksara Arab. Uraiannya adalah sebagai berikut:

· Gagangnya yang melekuk dan kemudian menebal di sikunya adalah aksara “Ba”.
· Bujuran gagangnya adalah aksara “Sin”.
· Bentuk lancip yang kemudian menurun di pangkal besi dekat gagang adalah aksara “Mim”.
· Lajur besi bermula dari pangkal gagang sampai dekat ujung adalah aksara “Lam”.
· Ujung meruncing dengan sisi bagian atas yang mendatar dan bagian bawah agak ke atas adalah aksara “Ha”.

Apabila dirangkai, maka aksara Arab “Ba”, “Sim”, “Mim”, “Lam”, dan “Ha” tersebut mewujudkan kalimat Bismillah. Karena itulah pandai besi yang akan membuat rencong perlu memiliki kepandaian bukan hanya maqrifat besi, tapi juga ilmu kaligrafi. Dan alasan ini pula yang membuat masyarakat Aceh memiliki filosofi menggunakan rencong bukan untuk hal-hal kecil yang sepele, apalagi untuk melakukan perbuatan keji, melainkan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh serta berjuang di jalan Allah
https://tokopedia.by/agila88/content/84733921

Jenis-Jenis Rencong Aceh

Tahukah Anda kalau ada beberapa jenis rencong? Apabila Anda mendatangi toko atau seseorang yang jual rencong Aceh, Anda bisa temukan empat jenis umum rencong sebagai berikut.

1. Rencong Meucugek (Meucungkek).
Diberi nama demikian karena rencong yang satu ini memiliki gagang dengan suatu bentuk perekat atau panahan, yang disebut sebagai cugek atau meucugek oleh masyarakat Aceh. Fungsi dari cugek ini adalah agar rencong mudah dipegang, serta tidak mudah lepas dari genggaman.

2. Rencong Meupucok.
Jenis rencong yang satu ini memiliki pucuk pada bagian atas gagangnya, dan pucuk tersebut dibuat dari ukuran logam. Biasanya, jenis logam yang digunakan adalah emas. Gagang rencong meupucok ini terlihat lebih kecil pada gagang bagian bawah, namun ukurannya membesar semakin ke ujungnya. Rencong meupucok biasanya digunakan sebagai hiasan atau aksesoris, dan umum ditemukan sebagai salah satu bagian dari prosesi upacara resmi yang berkaitan dengan adat dan seni.

3. Rencong Pudoi.
Sejarah dari rencong pudoi ini sudah dibahas sekilas sebelumnya, yaitu rencong dengan gagang lurus, bukannya melengkung sebagaimana rencong-rencong tradisional lainnya. Hal tersebut dikarenakan bagian yang melengkung dipotong agar rencong mudah disembunyikan para pemberontak di era penjajahan Belanda. Istilah pudoi sendiri digunakan masyarakat Aceh untuk mengacu pada sesuatu yang dianggap masih belum sempurna, atau masih memiliki kekurangan.

4. Rencong Meukuree.
Perbedaan jenis rencong yang satu ini dengan rencong lainnya adalah pada bagian mata pisaunya. Pada rencong meukuree, bagian matanya biasanya dihiasi dengan gambar-gambar tertentu, seperti gambar bunga, ular, dan sebagainya. Oleh pandai besi yang membuatnya, gambar yang dipilih ditafsirkan sebagai kelebihan atau keistimewaan rencong tersebut.

Apabila disimpan dalam waktu yang lama, mata rencong akan menunjukkan sebuah bentuk yang disebut sebagai kuree. Seiring dengan bertambahnya umur rencong, kuree yang terdapat pada mata rencong tersebut. Oleh masyarakat tradisional, kuree ini dianggap memiliki kekuatan magis.

Nah, itulah rangkuman tentang sejarah rencong, jenis, dan filosofi di baliknya. Cek rekomendasi di Tokopedia untuk informasi bermanfaat lainnya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rincian Gaji di Viking River Cruise

Arti Kartu Tarot The Fool

Kisah Awalku Bisa Bekerja di Viking River Cruise

Opening Season, Masalah Kontrak dan Gajih Viking River Cruise

Syarat Mendapatkan Surat Rekomendasi Paspor Dari Disnaker

Bagaimana sih Operasional Kerja di Viking River Cruise

Organibee Detox Honey Review

Jual Rencong Aceh Asli dan Berkualitas

Aktivitas Waiter Untuk Kerja Breakfast di Viking River Cruise

Ramuan Minyak Daun Jarak Review